REVIEW BUKU “FILOSOFI TERAS”
Karya Henry Manampiring
Saat cobaan, kesusahan, bencana terasa begitu berat melanda yang diminta dari kita bukanlah teori, strategi, tips, dan trik yang canggih-canggih. Filosofi teras hanya meminta kita untuk cukup bertahan,tetap teguh bagai tebing karang yang tidak bisa dikalahkan badai.Sampai akhirnya cobaan tersebut yang “lelah” sendiri. Itu adalah salah isi dari buku Filosofi Teras
Buku ini pada awalnya adalah
hasil tentang sebuah survei kekhawatiran nasional yang semakin banyak sekaligus
menggambarkan tentang sekilas kehidupan
si penulis yang dipenuhi oleh emosi negatif yang berlebihan dan sangat
menggangu. Lalu, lebih dari 2000 tahun lalu sebuah mazhab filsafat menemukan
akar masalah dan solusi dari banyaknya emosi negatif yaitu Stoisisme atau
filosofi Stoa, namun penulis lebih memperkenalkannya dengan “Filosofi Teras”
yang merupakan filsafat Yunani-Romawi Kuno yang bisa membantu kita untuk mengatasi
emosi negatif serta membentuk mental
seseorang menjadi tangguh dalam menghadapi naik turunnya kehidupan. Dalam buku
tersebut, filsafat Stoa digambarkan dengan sederhana dengan inti dikotomi
kendali nasib manusia sehingga dari dikotomi kendali tersebut, manusia dapat
memahami hal-hal yang dapat membuatnya
bahagia maupun tidak. Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita seperti: persepsi kita,keinginan
kita, tujuan kita, dan hal yang kita pikirkan. Sedangkan hal yang berada di
luar kendali kita seperti: tindakan orang lain, persepsi orang lain terhadap
kita, kesehatan, kekayaan, dan populatitas kita. Namun, Wiliam Irvine
menawarkan trikotomi kendali di mana memuat apa yang menjadi kendali kita,tidak
menjadi kendali kita, dan juga menjadi bagian dari kendali kita.
Buku Filosofi Teras ini
sangat berbeda dengan buku filsafat lainnya karena filosofi teras (Stoa)
digambarkan dengan analogi kejadian yang real di kehidupan sehari-hari dan penggunanan bahasa yang sesuai
dengan Generasi Milenial dan Gen-Z. Salah satu yang menarik dari Filosofi Teras
ini terletak pada tujuannya yaitu hidup dalam ketenangan dan terbebas dari
segala emosi negatif. Oleh karena itu, pada setiap bab Filososfi Teras terdapat
pelajaran yang diambil, salah satunya yaitu dalam menjalani kehidupan harus
selaras dengan alam. Di mana kehidupan berjalan sesuai kehendak pencipta-Nya
dan selaras dengan alam itu berarti kita harus selalu mengandalkan akal kita
agar tidak terbawa arus yang menyimpang. Apalagi sekarang ini banyak di antara
kita yang belum bijak dalam menggunakan medsos dan sering ditemui berita hoaks,
sehingga kita tidak cepat terbawa emosi dan tidak baperan. Satu hal yang harus kita ingat, jangan terlalu memikirkan
hal yang belum tentu akan terjadi ke depannya, biarkan berjalan sebagaimana
mestinya, namun tetap diiringi dengan usaha agar mendapat hasil yang maksimal.Secara keseluruhan buku ini menarik dan recommended banget untuk dibaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar